-->

Teringat Kampung Halaman

Delapan tahun mungkin waktu yang sebentar bila ia adalah umur manusia. Namun, bagaimana jika itu rentang kerinduan?

Bagaimana keadaan kampung kita hari ini, Na? Tentu ada perubahan, karena kampung yang statis berarti ia kampung mati, bukan? Sedang kampung kita masih hidup sampai kini. Setidaknya, tiap setengah bulan, Ibu yang mengantarkan bekal kepadaku di rantau masih berkisah perihal kampung kita. Walau cerita itu tentu tak utuh, sepotong-sepotong.
Dari rantau, kerinduan menjelma tangan bidadari. Tangan itu berayun-ayun mengajakku memeluknya. Aku diminta pulang. Tapi kubiarkan dan memilih diam dengan keadaan seperti itu. Aku mencoba menikmati sensasinya.
Mula-mula, kerinduan itu bertaut ke dangau sebelah utara rumah kita. Bagaimana kabar makhluk renta itu? Barangkali ia sudah tumbang atau kian kokoh seiring pemiliknya yang memperbaharui. Bila yang terakhir terjadi, pastilah kini tubuhnya telah berubah. Ia mungkin kelihatan lebih kekar dengan rusuk-rusuk dari pohon siwalan. Empat pilar penyangga tubuhnya terbuat dari pohon jati hutan. Konon, jati hutan lebih perkasa ketimbang jati emas, jati proyek pemerintah itu.
Kemungkinan terakhir itulah yang kuharapkan terjadi. Sebab, bila yang pertama, kenanganku tak punya tautan. Dangau itu sungguh berarti menyimpan jejaring masa lalu. Kita bisa melanglang buana ke masa lalu dengan hanya duduk-duduk di atasnya. Dan kini, aku merindukan suasana itu. Seperti sekian tahun lalu, saat kita masih bersama, tiap sore menjelang.
Di sana, kita bisa menikmati pegunungan Berekas yang dipenuhi ragam pepohonan; pelan, tangkolon, pohon kelapa, siwalan, dst. Itu memberi kenangan tersendiri ke dalam memori otak kita. Pohon-pohon itu tumbuh seperti mengisi ruang masa kecil kita. Pada pohon siwalan, karena kita tak pandai memanjat, kita cukup mencari buah-buahnya yang sudah tua dan sudah lama terjungkal dari pohonnya. Buah-buah itu bila tak busuk dimakan air tanah biasanya tumbuh tunas. Nah, itu dia yang kita cari. Bukan untuk menanamnya, tapi untuk mencongkel bagian dalam lalu kita memakannya. Bila sedang mujur, ia berbentuk besar kekuning-kuningan, manis. Tapi bila tidak, kita hanya mendapatkannya yang kecil. Itu pun kadang malah busuk.
Butuh perjuangan untuk bisa mendapatkannya. Setidaknya kita harus memecah batok pembungkus buah itu yang kerasnya minta ampun. Kita harus menyediakan parang yang kokoh agar tak sumbing dibuatnya. Bila nahas, kita pun harus mengendap-ngendap dari hadapan orang tua agar tak kena marah telah membuat parangnya sumbing.
Perihal pohon, masih banyak yang bisa kita bicarakan; pohon kelapa yang sering kita intai buah-buah keringnya; pohon rokem yang sering kita aku-aku, padahal itu tumbuhan liar; pohon je’buje’en, dst. Semua itu membawa kisah-kisahnya tersendiri ke hadapan kita.
Di sebelah barat rumah kita, aku yakin sungai itu masih ada. Walau mungkin airnya sudah mampat. Pernah kudengar kabar sungai itu telah menjelma jamban raksasa. Di sana-sini ada hajat hidup orang banyak. Bau khas meruap tak keruan. Sungguh malang benar nasibnya.
Dulu, sehabis sekolah, kita biasa berlama-lama di sana. Sebuah jembatan bambu melintang dari timur ke barat, memisahkan desa kita dengan desa tempat sekolah berdiri. Di jembatan tersebut pandangan kita tak lepas ke arah selatan. Laut pembatas pulau Madura tertumbuk mata. Kita bisa memandanganya dengan leluasa karena di depan kita adalah air terjun yang curam. Air terjun itu pula yang membuat suasana sejuk menghinggap.
Aku tak bisa membayangkan bila nasib sungai itu semisal sungai-sungai di tempatku kini, di mana saluran-saluran airnya sudah mengering. Sungai-sungai itu menjelma jurang-jurang raksasa. Hanya pada musim penghujan ia bisa dialiri air. Itu pun tak seberapa karena tanah sudah begitu keringnya. Air bisa begitu cepat disesap tanah tandus. Ia tak bisa bertahan hingga musim kemarau berlalu.

Kita memang tak bisa berbuat apa-apa terhadap anomali cuaca. Kita tak bisa menerka dari mana perubahan itu dihembuskan. Otak kita tak cukup lihai mengurai benang kusutnya. Itu masalah lain dalam komunitas kita, orang-orang kampung yang tak pernah bisa belajar dengan baik. Yang bisa cepat kita tangkap hanyalah perubahan yang tiba-tiba; kemarau panjang atau musim penghunjan yang tak berbatas. Keduanya sulit kita temui pada masa lalu. Mereka bergantian menyambangi kita. Dengan begitu kita tahu kapan harus membawa payung ke sekolah dan kapan pula harus menyimpannya dengan baik di dalam lemari.

Baiklah, kita tinggalkan soal musim yang tak menentu. Aku ingin bertanya perihal kebiasaan orang-orang di kampung kita. Apakah mereka masih suka kerapan sapi? Dulu, melihat kerapan adalah pantangan yang tak boleh kita langgar. Larangan tentu saja datang dari kedua orang tua kita. Haram, begitu mereka berdalih. Kukira, dalam beberapa hal, alasan mereka masuk akal. Mereka katakan haram karena kerapan sapi itu menganiaya binatang. Paku-paku yang ditusuk-tusukkan serta balsem dan cabe yang dioles ke anus sapi-sapi itu sungguh siksaan yang amat kejam. Aku tak bisa membayangkan bilamana itu dialamatkan kepada kita sendiri. Sengsara tak kepalang tentu saja.

Alasan lain yang masih jadi tanda tanya bagiku, misalnya saronen, alat bunyi pengiringnya. Kata orang tua kita, itu merupakan mainan setan. Kalimat saklek tersebut lahir karena mereka mungkin menganggap kita masih kecil, yang bisa puas hanya dengan sekelumit kata-kata itu. Padahal tak demikian. Aku masih terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin setan bisa bermain-main dengan gong, kenong, tetet, dll. Itu mustahil terjadi, mengingat setan adalah makhluk halus sementara saronen makhluk kasar. Ini pikiran kecilku waktu itu, namun tak berusaha kutanyakan kepada orang tua.

0 Response to "Teringat Kampung Halaman"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel