Pengertian, Struktur, Unsur-Unsur, dan Ciri Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah

Pengertian, Struktur, Unsur-Unsur, dan Ciri Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah | Kali ini kami akan membahas tentang Pengertian, Struktur, Unsur-Unsur, dan Ciri Kebahasaan Cerita (Novel)  Sejarah. Sebagian besar penjelasan di sini diambil dari buku pelajaran Bahasa Indonesia kurikulum 2013. Semoga artikel ini bisa membantu Anda memahami tema dimaksud.

Pengertian dan Struktur Teks Cerita Sejarah

Pada pembelajaran kali ini, kita akan belajar tentang tema yang berhubungan dengan masa lalu dan sangat erat hubungannya dengan kehidupan saat ini, yaitu teks cerita (novel) sejarah. Melalui cerita sejarah, kita bisa mengetahui bagaimana kisah para pendahulu yang tidak hanya mementingkan kehidupan pribadinya, tetapi juga berjuang untuk kehidupan rakyat yang lebih makmur. Dari kisah perjalanan hidup mereka, kita bisa menyikapi kehidupan nyata sekarang dengan cara meneladani sosok tokoh yang diceritakan dalam teks cerita sejarah. Oleh karena itu, kita tidak selayaknya melupakan sejarah. Sebab dalam sejarah banyak terkandung cerminan kehidupan yang mestinya dilihat dan ditiru oleh generasi saat ini.

Teks cerita sejarah adalah teks yang menceritakan suatu peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau dan tetap berpijak pada fakta. Peristiwa sejarah tersebut disusun secara kronologis berdasarkan urutan waktu terjadinya dan peristiwa tersebut memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat. Sebuah teks dapat disebut teks sejarah apabila memenuhi struktur yang berlaku. Dalam teks sejarah juga terdapat ciri kebahasaan yang membedakannya dengan teks yang lain.

Teks cerita sejarah mengisahkan sebuah fakta sejarah manusia yang bersumber dari realisasi diri, kebebasan dan keputusan daya rohani yang menceritakan kisah masa lampau, studi tentang sebab dan akibat dalam bentuk teks cerita sejarah. Penyusunannya didasarkan pada fakta dan data yang objektif. Contoh novel sejarah yang beredar adalah Hulubalang Raja karya Nur St. Iskandar, Ken Arok (Cinta dan Takhta) karya Zhaenal Fanani, Gajah Mada, Sumpah di Manguntur karya Langit Kresna Hariadi.

Strukter teks cerita sejarah non-fiksi hampir sama denga teks cerita sejarah fiksi. Struktur cerita sejarah non-fiksi yaitu : 1) disajikan secara kronologis atau urutan peristiwa atau urutan kejadian; 2) bentuk teks cerita ulang; dan 3) struktur teks orientasi, urutan peristiwa, reorientasi. Sedangkan struktur teks cerita fiksi berfungsi membangun terbentuknya sebuah teks cerita yang baik, yaitu meliputi: orientasi, rangkaian kejadian yang saling berkaitan, komplikasi, dan resolusi. Pembahasannya adalah sebagai berikut:

a.    Orientasi
Pada bagian orientasi terdapat gambaran umum tentang peristiwa yang diceritakan pada sebuah teks cerita sejarah.
b.    Urutan peristiwa
Bagian ini isinya menceritakan kronologi peristiwa sejarah yang disusun sesuai urutan waktu.
c.    Komplikasi
Bagian ini menyampaikan berbagai permasalahan yang menimbulkan konflik.
d.    Reorientasi

Bagian ini merupakan penegasan ulang pada teks cerita sejarah. Bagian ini bukan merupakan struktur yang harus ada dalam teks cerita sejarah sehingga tidak semua cerita sejarah terdapat bagian reorientasi.

Baca Juga: Pengertian, Struktur, dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Biografi

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meyusun sebuah cerita sejarah. Antara lain sebagai berikut:

1.    Kejadian-kejadian diceritakan dalam urutan kronologis dari awal sampai akhir. Beberapa peristiwa juga perlu diatur menurut urutan kronologis.

2.    Sekelompok fakta (peristiwa) perlu ada penentuan fakta kausal (penyebab)-fakta peristiwa-fakta penyebab.

3.    Jika uraian berupa deskriptif-naratif, maka perlu ada proses serialisasi, yaitu mengurutkan peristiwa berdasarkan prinsip-prinsip di atas.

4.    Dua peristiwa atau lebih yang terjadi secara bersamaan perlu dituturkan secara terpisah.

5.    Apabila satu peristiwa sangat kompleks, terjadi atas banyak kejadian kecil, maka perlu dikoreksi mana yang perlu disoroti karena dipandang penting.

6.    Unit waktu dan unit ruang dapat dibagi atas subunit tanpa menghilangkan kaitannya atau dalam kerangka umum suasana terjadinya.

7.    Untuk memberi struktur pada waktu maka perlu dilakukan periodisasi waktu berdasarkan kriteria tertentu.

8.    Suatu peristiwa dengan lingkup waktu dan ruang yang cukup besar sering memerlukan pembabakan atau episode-episode, seperti gerakan sosial tentu mengalami masa awal penuh keresahan sosial, munculnya pemimpin dan ideologi, masa akselerasi politik, konfrontasi, dan massa reda.

9.    Perkembangan ekonomi sering memperlihatkan garis pasang surut semacam gelombang yang lazim disebut konjungtor. Di samping itu, perubahan sosial memakan waktu lebih lama sebelum tampak jelas perubahan strukturalnya. Perubahan yang mendesak, total dan radikal lebih tepat disebut revolusi.

10.    Dalam perkembangan metodologi sejarah mutakhir ternyata pengkajian sejarah tidak lagi semata-mata membuat deskripsi naratif, tetapi lebih banyak menyusun deskripsi analisis. Dalam melaksanakan proses penulisan, satu hal yang juga penting untuk diperhatikan adalah pemakaian pendekatan. Pada umumnya pendekatan yang dipakai harus bersifat multidimensional sehingga pembahasannya lebih bulat dan utuh. Pendekatan multidimensional ini juga penting untuk menghindarkan dari determinisme tertentu yang hanya memandang bahwa satu peristiwa atau permasalahan seolah-olah hanya disebabkan oleh satu faktor tertentu saja.

Unsur-Unsur Teks Cerita Sejarah

Setiap ukarya sastra memiliki dua unsur pembangun. Pertama, unsur intrinsik, yaitu hal-hal yang membangun karya sastra itu dari dalam. Kedua unsur ekstrinsik, yaitu unsur yang mempengaruhi karya sastra dari luar. Unsur ekstrinsik karya sastra yaitu faktor-faktor sosiologi, ideologi, politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain yang turut berperan dalam penciptaan karya sastra. Unsur ekstrinsik itu merupakan latar belakang dan sumber informasi bagi karya sastra yang tidak dapat diabaikan karena memiliki nilai dan pengaruhnya. Walaupun penting, unsur ekstrinsik tidak menjadi dasar eksistensi sebuah karya sastra. Eksisitensi sebuah karya sastra terletak pada unsur intrinsiknya tanpa mengabaikan unsur ekstrinsiknya. Selanjutnya menurut Renne Wellek (1995: 85), nilai-nilai ekstrinsik secara umum yang sering dimunculkan dalam karya sastra berbentuk teks cerita sejarah adalah nilai pendidikan, nilai politik, nilai patriotik, dan nilai moral.

Sedangkan unsur intrinsiknya sama dengan unsur intrinsik dalam karya sastra yang lain, seperti tema, tokoh, latar/setting, alur/plot, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.

Ciri Kebahasaan dalam Teks Cerita Sejarah

Dalam novel sejarah terdapat ciri kebahasaan yang membedakannya dengan teks yang lain. Ciri-cirinya adalah menggunakan kata/kelompok kata nomina untuk menggambarkan peristiwa sejarah secara rinci. Kelompok kata dalam teks cerita sejarah adalah kelompok kata nomina dan kelompok kata verba. Terdapat tiga jenis kelompok nomina: 1) kelompok nomina modifikatif, misalnya rumah besar, dua botol, ruang makan, dan lain-lain; 2) kelompok kata koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya: lahir batin, sandang pangan, sarana prasarana, hak dan kewajiban, adil dan makmur, dan lain-lain; 3) kelompok nomina apositif, sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan, misalnya: Sinta, teman sekelasku, pergi berlibur ke Bali.

Menggunakan kalimat simpleks dan kalimat kompleks. Kalimat simpleks adalah kalimat yang memiliki konjungsi koordinatif atau kata penghubung koordinatif. Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya setara atau sederajat. Misalnya penanda hubungan penambahan (dan), penanda hubungan pendampingan (serta), penanda hubungan pemilihan (atau), penanda hubungan pertentangan (padahal, sedangkan, bahkan, namun). Sedangkan kalimat kompleks adalah kalimat yang terdiri dari lebih satu aksi, peristiwa, atau keadaan sehingga mempunyai lebih dari satu verba utama dalam satu struktur. Kalimat kompleks ini lebih dikenal dengan kalimat majemuk.

Menggunakan kata rujukan. Kata rujukan ialah kata yang merujuk pada kata lain yang telah diungkapkan sebelumnya. Kata rujukan dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

1.    Rujukan benda atau hal, yaitu kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat atau semua benda dan segala yang dibendakan, misalnya: ini, itu, tersebut.
2.    Rujukan tempat, yaitu kata yang menyatakan atau merujuk pada kata tempat dimana kejadian itu berlangsung, misalnya: di sini, di situ, di sana.
3.    Rujukan personel atau orang atau yang diperlakukan seperti orang, yaitu kata yang merujuk pada tokoh dalam sebuah cerita yang mengalami kejadian atau peristiwa tertentu. Misalnya: aku, dia, mereka, beliau, dlsb.

Demikian pembahasan tentang Pengertian, Struktur, Unsur-Unsur, dan Ciri Kebahasaan Teks Cerita (Novel) Sejarah. Semoga bermanfaat untuk Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel