-->

Hal Remeh Temeh dalam Menulis

Berdiam di rumah minim perawatan di sebuah desa bernama Hohenstein-Ernstthal, dekat Dresden, Jerman, lelaki itu selama empat tahun menderita xeroptalmia, penyakit kebutaan ringan. Di luar itu, ayahnya yang pemarah seringkali menghadiahinya sebuah pukulan. Tumpuan satu-satunya menghadapi kekerasan sang ayah adalah neneknya. Si nenek suka mendongeng untuk menghentikan tangis sang bocah. Dongeng-dongeng itu yang kelak barangkali juga ikut andil melambungkan nama bocah itu.
Pada tahun 1860, ia ditolak menjadi guru dan memilih melanjutkan sekolah. Tapi nasibnya tidak mujur. Di sekolah yang baru dimasukinya itu ia dituduh mencuri sebuah arloji hingga menyeretnya ke balik terali besi. Ia tak bisa meyakinkan pihak berwenang untuk menggagalkan hukumannya.
Tahun-tahun selanjutnya adalah kurun di mana ia harus berperang dengan delapan karakternya yang berbeda-beda. Dalam ilmu kejiwaan, ia disebut mengidap penyakit multiple personality disorder atau keterpecahan jiwa. Ia menggeluti musik dan menulis, tetapi karakternya menuntut ia menjadi pencuri. Dalam rangka misi kejahatannya itu, ia kadang menyamar menjadi letnan polisi, dokter medis, dan asisten notaris. Aksi-aksi itu mengantarkannya ke dalam penjara, sehingga ia harus mendekam di sana selama hampir tujuh tahun.
Tetapi, justru di balik terali besi inilah ia menghasilkan karya-karya besarnya. Serial Winnetou memukau pembaca pada tahun 70-an. Sebuah dongeng yang berkisah tentang petualangan Old Shatterhand bersama Winnetou di rimba suku Apache.
Mengenai hal ini, ia pun membual kepada orang-orang, bahwa Old Shatterhand adalah dirinya sendiri, yang bararti petualangan itu adalah perjalanan hidup sang pengarang. Padahal, ia menulis kisah itu di dalam penjara. Kelak, seorang pengagumnya berucap, “Dia bukan hanya piawai mendongeng. Kehebatan utamanya adalah mengakui dongengnya itu sebagai pengalaman hidupnya sendiri. Hitler pun ikut mengaguminya.”
Di sampul buku-bukunya, pembaca bisa menemui nama lelaki itu sebagai Karl May.
Nun jauh di seberang, kelak, seorang pengagum pembual itu begitu terpedaya setelah membaca dongeng-dongeng yang ditulisnya. Ia melahap karya-karya petualangan itu hingga terobsesi untuk menghidupkan karakter Old Shatterhand dalam dirinya.
Lelaki itu seorang yang berangasan. Ia memilih hidup bersama komunitas anak jalanan yang suka tauran dan ngebut di Malioboro, ketimbang bergaul dengan teman-temannya di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM).
Waktu di sekolah dasar, ia pernah mengajak kawan-kawannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia pun melanggar peraturan sekolah dengan tidak mengenakan ikat pinggang dan membiarkan bajunya di luar celana. Lelaki itu juga memilih berambut gondrong dan berbaju batik ketika teman-temannya yang lain berambut pendek dan berbaju putih mengikuti aturan sekolah.
Selepas SMP, akibat terhasut dongeng-dongeng Karl May, lelaki itu memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Ia bertualang selama tiga bulan di Jawa Barat dan selanjutnya ke Sumatera (tempat dulu Karl May pernah mengembara untuk meyakinkan bualannya), hingga akhirnya menetap di sebuah pabrik kerupuk di Medan.
Di kemudian hari, lelaki ini menjadi penulis prosa terkenal. Sejumlah cerpennya seringkali memenangi berbagai penghargaan. Salah satunya adalah SEA Write Award, sebuah penghargaan dari pemerintah Thailand untuk sastrawan ASEAN.
Ia menikmati puncak ketenarannya ketika meluncurkan sebuah buku kumpulan cerpen “Saksi Mata”. Sekian cerpen di dalamnya memuat latar yang sama, yaitu kerusuhan di Timor-Timur tahun 1991. Seakan ingin membuktikan bahwa cerpen tidak hanya soal imajinasi, lelaki kelahiran Boston itu juga menulis esai “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”.
Sebagian orang menjumpai lelaki itu bernama Mira Sato, tapi nama sebenarnya adalah Seno Gumira Ajidarma (SGA).
****
Ihwal kisah di atas, saya hanya ingin bicara hal remeh-temeh soal menulis. Jika ingin membaca yang serius, Anda bisa membacanya di buku atau mencari di internet. Catatan ini, bagi saya, hanya sekadar hiburan menghindari rasa bosan. Bagaimana pun, menulis kadang memang menjadi laku yang tak mengenakkan, demikian kata AS Laksana. Namun, dengan tidak menulis, kita akan disambangi lebih banyak lagi kebosanan. Tersebab, menulis bisa menjadi media menjernihkan pikiran seseorang dari keruwetan hidup.
Ada sejumlah hal yang bisa kita omongkan dari dua kisah di atas. Misalnya, bahwa menulis itu adalah kerja untuk mengabadikan sesuatu. Proses transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sampai sekarang karena budaya tulis-menulis masih eksis. “Menulis adalah bekerja untuk keabadian," kata Pramoedya Ananta Toer (Pram).
Jika Karl May tidak menulis, kita takkan pernah tahu tentang kehidupan suku Apache yang dibayangkannya. Pun juga, bahwa ia seorang pendongeng sekaligus pembual yang hebat. Ia mungkin cuma garong yang keluar masuk penjara dan hanya dikenal oleh sejumlah kecil rakyat Jerman. Mereka mengenalnya melalui media-media yang memuat kejahatannya.
Dalam diri SGA pun demikian adanya. Jika ia tidak menulis, maka informasi kerusuhan Timor-Timur hanya sedikit sekali yang bisa dibaca oleh rakyat Indonesia, mengingat ada peran besar rezim Orde Baru dalam membungkam pers pada saat itu. Sejarah ini mungkin hanya akan menjadi mangsa masa lalu. Rakyat Indonesia, yang katanya memang mudah lupa, takkan tahu banyak bahwa pada tahun 1991 di republik ini pernah terjadi penjagalan besar-besaran. Pencongkelan bola mata, irisan telinga, pemenggalan kepala, penembakan, pemerkosaan, dan seterusnya.
Sejatinya, menulis adalah usaha menyusun sebuah puzzle peristiwa dimana banyak penulis berperan di dalamnya. Semakin banyak penulis yang membahas satu persoalan, semakin lengkap keping puzzle terpasang.
Searus dengan Pram, penulis Ceko Milan Kundera mengatakan, “Perjuangan manusia adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” A.S. Laksana memodifikasinya menjadi, “Menulis adalah perjuangan ingatan melawan para pelupa.” Dua ungkapan tersebut mengandung spirit yang beruntun, bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam hal mengingat sesuatu, dan salah satu cara mengikat ingatan itu adalah dengan menulis.
Dalam hal ini, kita bisa mencontohkan persoalan remeh-temeh dalam kehidupan. Dulu, kala masih kecil, dan bahkan sekarang pun, ketika Ibu menyuruh saya membeli sejumlah kebutuhan rumah tangga yang agak banyak, beliau selalu meminta saya menuliskannya dalam sesobek kertas. Itu dilakukan agar semua kebutuhan yang akan dibeli tidak ada yang tertinggal. Laku itu benar-benar membantu. Apalagi bagi saya yang pelupa parah.
Selain itu, kita masih bisa menderetkan sejumlah hal mengenai manfaat dunia tulis-menulis ini. Misalnya, bagaimana sebuah tulisan bisa memengaruhi pola-pikir seseorang. Dalam kasus di atas, SGA mengakui sendiri bahwa ia terpengaruh tulisan-tulisan Karl May. Pengaruh itu begitu kuat sehingga membuat tekadnya bertualang benar-benar ia wujudkan. Tentu, pengaruh itu lahir karena karya tersebut mengandung unsur-unsur yang kompleks. Maksud saya, karya yang bisa memengaruhi seseorang pastilah bukan karya abal-abal. Ada teknik, kreatifitas, keluasan wawasan pengarang, serta model penyampaiannya. JK Rowling bisa jadi contoh yang bagus soal bagaimana ia memengaruhi masyarakat dunia dengan karya-karyanya. Ada yang aneh ketika buku-bukunya di lempar ke pasaran. Orang-orang Barat yang notabene berpikiran rasional tiba-tiba begitu menggemari kisah-kisah Rowling yang menghadirkan dunia irrasional. Menyadari kenyataan itu, ada beberapa orang menyebut karya Rowling merusak pikiran orang-orang Barat karena dunia sihir yang menjadi tema utama serial Harry Potter.
Menulis juga merupakan laku menjernihkan pikiran. Di dalamnya, kita bisa berpapasan dengan sesuatu yang kadang akal tak sempat menciduknya (saat akal berada di luar aktivitas menulis tentu saja). Saat menulis kita mencoba menyusun sebuah alur pikir, sehingga apa yang kita tulis bisa mengurai sebuah permasalahan. Dalam kegiatan itu, kita memasuki lorong-lorong gelap pikiran. Tak heran bila kita sering berjumpa dengan frasa “keajaiban menulis”. Yah, menulis kadang memang ajaib.
Akhirnya, saya tidak yakin bahwa tulisan ini pun berakhir dengan pikiran jernih. Saya menulisnya dalam keadaan mumet dan kacau balau. Tapi, barangkali dengan melakukan ini saya bisa dicatat sebagai orang yang berusaha keluar dari suasana mumet dan kacau balau itu. Semoga.

12 Responses to "Hal Remeh Temeh dalam Menulis"

  1. hal remeh temeh sering terlewati oleh kita dalm kehidupan sekeliling kita, padahal kadang yang remeh temeh memberikan pelajaran yang berharag bagi kita tanpa kita sadari, banyak hal besar lahir dari remeh temeh ini.
    Tentang menulis remeh temeh, saya sudah berusaha memulainya dengan cara saya sendiri mas Rozi, meski tidak berarti penting bagi pembaca tapi sangat berarti bagi saya karena itu tadi, bisa menjernihkan pikiran sekaligus melawan lupa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, lama tidak jumpa, Mas. Ke mana saja nih? Hehehe...
      *padahal saya yang ngilang. :-D
      Terima kasih atas komentarnya, Mas Tonny.

      Delete
  2. misalnya beneran kacau balau, tapi tulisannya seperti tidak sedang kacau balau mas... kalau nggak ada penulis mengungkap sejarah juga susah..

    penemu penemu itu kayaknya juga awalnya dari sebuah buku. sukses selalu mas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mas. Kita tahu banyak hal karena orang-orang menulis. Semoga kita tetap menulis. :-)

      Delete
  3. Kemaren aku ke sini, postingannya berantakan. Nggak ada space antar paragraf. Jadi gak tak baca.

    "ketika Ibu menyuruh saya membeli sejumlah kebutuhan rumah tangga yang agak banyak, beliau selalu memintaku "

    Awalnya 'saya' kok jadi '-ku'. :D
    Aku naksir cerpen-cerpennya SGA, antibiasa. Sukaaa :x :x

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe....kemarin memang sempat diedit pakai ponsel. Dan akibatnya berantakan. :-)

      Terima kasih koreksinya. :-)

      Naksir SGA atau cerpen-cerpennya? :-D

      Delete
    2. SGAnya jugaaa. Gondrong gondrong gimanaaa gitchuh~

      Delete
    3. walah, demen sama kakek-kakek nih. :-P

      Delete

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel