-->

Surat Buat Annakku...

Anakku, dulu ayahmu bercita-cita ingin jadi penulis. Apakah kini cita-cita itu juga menghinggapimu? Bila iya, janganlah mengikuti jejak ayahmu ini. Carilah jalan lain yang lebih bisa menuntunmu menggapai cita-cita itu. Kau harus berhasil jadi penulis.

Ayahmu telah sejak dulu menulis. Dari semenjak kelas enam sekolah tingkat dasar atau Ibtidaiyah. Berkat seorang guru Bahasa Indonesia, ayahmu ini belajar menulis sajak. Kala itu, ayah menulis tema apa saja. Yang paling membuat ayahmu tertawa dikemudian hari adalah sebuah puisi yang mengambil tema tentang Mak Lampir. Kau tahu Mak Lampir? Barangkali tidak, kecuali kau menguliknya di laman-laman internet. Sinetron itu kini sudah almarhum. Dia adalah tokoh antagonis dalam sinetron laga “Misteri Gunung Merapi”.

Sebenarnya ayah tak mau bermaksud melucu dalam tulisan itu. Ayah hanya ingin merekam sisi artististik darinya. Dan karakteristik paling melekat dalam benak masyarakat saat itu adalah cara dia tertawa. Keunikan cara tertawanya itulah yang membuatnya memiliki ciri khas ketimbang tokoh dalam sinetron yang lain. Dan ayah berusaha merekam keunikan itu dalam bentuk tulisan. Dan, lahirlah sajak itu.

Setelah ayahmu mondok, keinginan untuk terus menulis masih bercokol di otak. Berkali-kali ayah masuk dalam organisasi yang selalu intim dengan dunia tulis menulis. Dari ikut sanggar Basmalah, aktif di perpustakaan, Komunitas Cinta Nulis (KCN), dan komunitas Mangsen. Kesemuanya telah memberi ruang yang cukup luas bagi ayahmu ini untuk membangun cita-cita itu menjadi nyata. Tapi apa, semua itu tak ada efeknya. Ayahmu tetaplah bukan penulis, kecuali hanya penulis loakan dan sungguh tak dapat diperhitungkan.

Bila kau bercita-cita ingin menjadi penulis, dengarkanlah ayahmu ini bicara. Kau barangkali ragu perihal apa yang akan ayah ucapkan. Itu lazim mengingat ayah adalah penulis gagal. Tapi, apakah seperti itu sudut pandang yang mesti kau lihat? Tentu, calon penulis yang baik tidak akan berbuat demikian. Ia akan mendengarkan apa saja soal tulis-menulis, bahkan dari tong sampah sekalipun. Toh, calon penulis yang baik pasti tahu apa yang mesti dan tidak mesti dilakukan. Dan tong sampah seperti ayahmu ini juga pasti ada gunanya berbicara meski hanya sepatah. Dari kegagalan-kegagalan itu tersembul ruang-ruang keberhasilan. Bukankah demikian adanya?

Semata kunasihati dirimu karena ayah tak ingin anakku juga larut dalam cita-cita yang gagal. Kau harus belajar dari kegagalan ayah agar kau tak jatuh ke jurang yang sama. Itu namanya konyol bukan? Bila kau bercita-cita hanya untuk mencebur ke lubang sumur yang sama, biarlah cari cara lain untuk menggapai masa depan. Masih banyak kerja yang bisa kau sumbangkan untuk orang-orang di sekitarmu. Ayah punya sedikit ladang, mungkin kau bisa menjadi petani yang baik nantinya. Itu bukan pilihan buruk kukira. Bila dikerjakan dengan baik, menjadi petani toh tetap menyumbangkan hal-hal positif bagi orang lain. Kau, bila jadi petani kelak, harus patahkan stigma orang-orang yang mengatakan sarjana memalukan jika jadi petani. Itu anggapan ngawur, anakku. Bukankah mereka makan dari petani? Petani itu bahkan yang menghidupi penulis berkat padi-padi yang ditanamnya. Penulis akan hambar makannya jika tak ada cabe dari petani. Jadi, tak ada pekerjaan yang buruk bila diniatkan baik dan bersungguh-sungguh.

Menulis bukanlah perkara mudah, anakku. Ayah bukan mau menakut-nakuti, tapi biar kau ada persiapan. Yang perlu kau persiapkan pertamakali adalah mental. Kau harus memiliki jiwa ksatria. Ada banyak musuh dalam dunia tulis-menulis, anakku. Kau bisa berjumpa tiba-tiba dengan prasaan malas, kehilangan mood, putus asa karena ditolak media, dicaci teman sendiri, dibantai habis-habisan oleh penulis lain, dst. Dst. ayah letakkan mengingat daftar musuh yang lumayan panjang. Mereka semua datang tak tentu waktu. Kadang saat kau sedang dalam gairah yang menggebu-gebu, atau kadang saat kau benar-benar terpuruk sama sekali. Intinya, mereka bisa menyerangmu kapan saja.

Tapi, seorang ksatria tentu bisa menumpas dengan mudah semua musuh-musuhnya, tak seperti ayah yang selalu bertekuk lutut di hadapan cecunguk-cecunguk itu. Ayah mudah jadi pecundang, anakku. Kau tak boleh seperti ayah. Kau harus kuat. Makanya, semenjak kini ayah sarankan kau mulai mempersiapkan diri.
Mula-mula yang harus kau persiapkan adalah banyak membaca. Bila kau masih belajar membaca, carilah buku-buku ringan. Kau bisa meminjam buku komik di perpustakaan sekolah. Maafkanlah, ayah mungkin tak punya banyak uang untuk membelikanmu buku-buku bacaan. Satu dua komik mungkin masih bisa ayah penuhi, tapi untuk buku-buku yang lain kau mesti berjuang sendiri. Sekali lagi, maafkanlah ayahmu ini. Miskin memang tak pernah ayah harapkan. Tapi ia takdir yang sudah digariskan oleh Yang Kuasa. Tapi, ayah akan bekerja semampu ayah untuk membelikanmu buku-buku baru. Ayah hanya ingin kau terus berdoa dan tak henti berusaha.

Kemudian, kau juga harus mulai menulis, anakku. Dua buku tulis tebal yang ayah beli dua minggu lalu kukira masih cukup untuk menampung tulisan-tulisanmu dalam beberapa bulan ke depan. Kau bisa menulis apa saja. Tetangga sekeluarga yang gila itu bisa kau tulis dalam bukumu. Bagaimana mereka menghadapi hidup di pedalaman tanpa sentuhan dari pemerintah. Mereka tak tahu apa itu Bank Century, pembangunan gedung baru DPR, resuffle kabinet, bom buku, dst. Pun pemerintah demikian, mereka tak hirau nun jauh di seberang ada rakyat sekeluarga yang hidup miskin dan gila. Memang tak masuk akal jika mengaitkan dua kelompok ini harus saling tahu. Tapi, anakku, bukankah di lingkup daerah mereka juga punya kepanjangan tangan? Ah, ayah yang pikun ini mungkin sudah ngawur. Tapi, yang terpenting kau harus terus menulis. Menulis apa saja. Bahkan tentang ayah yang brengsek juga tak apa, asal jangan ketahuan. Sebab, kau bisa tak dibelikan buku lagi.

Dalam menulis, kau bisa mempraktekkan tips-tips menulis dari penulis kebanggan ayah, As. Laksana. Kau bisa membaca tulisan-tulisan itu di blognya. Bila ayah punya uang, kau bisa berlama-lama menikmatinya di internet.

Ayah akan tuliskan beberapa tips menulis yang pernah ayah baca dan masih nyangkut di otak.
Pertama, menulislah dengan buruk. Yaitu, menulis secara cepat. Itu lebih baik ketimbang harus berlama-lama di depan kertas kosong maupun layar putih komputer. Kau mungkin pernah mengalami keadaan demikian, di mana pikiran tidak mau tahu apa yang mesti ditulis. Pikiran macam begitu harus disingkirkan. Cara membuangnya adalah dengan menulis cepat. Tentu ada resiko yang harus dihadapi, yaitu alur yang melompat-lompat, gagasan tidak jelas, struktur kacau, dll. Itu lumrah karena kita menulis dengan asumsi yang kacau pula. Tak ada masalah dengan itu, anakku. Kau hanya perlu memiliki kesadaran bahwa itu memang tulisan buruk. Dan karenanya kau harus memperbaiki di waktu yang lain.

Satu hal yang perlu ayah sampaikan kepadamu, bahwa menulis cepat itu mempertemukan penulisnya dengan pengalaman-pengalaman yang tiba-tiba muncul. Ayah sudah pernah mempraktekkan itu. Tiba-tiba kalimat-kalimat meluncur begitu saja dari otak. Mengalir sampai jauh. Itu yang disebut pengalaman ajaib dalam dunia tulis-menulis. Maka, menulislah dengan rileks semisal kita bercerita, kata As. Laksana.

Kedua, dalam menulis As. Laksana selalu dibantu oleh outline tema yang akan ditulisnya. Mungkin kau bisa menerapkannya juga, anakku. Kau bisa mengambil kertas-kertas bekas untuk kau corat-coret. Buatlah garis-garis besar apa yang akan kau tulis. Kata As. Laksana, itu akan membantu kita untuk menghindari pikiran mentok. Sebab, di tangan kita sudah ada sketsa. Kita hanya perlu memberi warna, menebalkan dan menghaluskan garis-garis itu hingga menjadikannya gambar yang utuh.

Ketiga, buatlah deadline. Nah, ini yang selalu gagal ayah lakukan. Kau tak perlu mengikuti ayah dalam hal ini. Ayah sarankan, kau harus menulis tiap hari. Buatlah ia menjadi teman sarapanmu. Itu akan mengakrabkanmu dengan dunia baru yang akan kau masuki. Lingkungan baru selalu membawa kejutan-kejutan. Kau harus punya kepekaan untuk memanfaatkan kejutan-kejutan itu. Dan yang terpenting, kau tak perlu terkejut untuknya.

Wah, ayah sudah terlalu panjang berkata-kata. Sebenarnya, masih banyak tips dari As. Laksana yang belum ayah sampaikan kepadamu. Kapan-kapan ayah akan menyambungnya, tentu bila kau masih berminat. Toh, itu bisa kau baca sendiri. Di luar tulisan-tulisan As. Laksana kau masih bisa membaca tips-tips dari penulis kenamaan, misalnya esai-esai Joni Ariadinata. Dalam hal fiksi, ia juga termasuk penulis esai yang piawai. Ayah dulu tak mau ketinggalan tulisan-tulisannya yang muncul tiap bulan di majalah Annida. Tapi dikemudian hari majalah itu pindah ke dunia maya. Ayah jadi jarang berkunjung.

Akhirnya, selamat menulis, anakku. Selamat menemukan dunia baru yang penuh kejutan itu. Ayah ingin sekali kelak kau bisa menunjukkan sebuah buku sambil berucap, “Lihatlah, Ayah. Aku juga bisa menulis seperti As. Laksana.”

Guluk-Guluk, 17 April 2011

0 Response to "Surat Buat Annakku..."

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel